MENGAPA MEMILIH HOMESCHOOLING (SEKOLAH RUMAH) ?


Homeschooling atau sekolah rumah, beberapa tahun belakangan ini sudah menjadi trend bagi alternatif pendidikan siswa-siswi di Indonesia. Memang dapat dikatakan terlambat, jika dibandingkan Amerika atau negara lain yang sudah maju. Mereka telah memperkenalkan konsep homeschooling di sana sampai tingkat universitas. Dengan pencetus utama homeschooling di Indonesia yaitu Kak Seto (Sekolah Mutiara Indonesia), kini sudah banyak berdiri homeschooling lain seperti  Ehugheschooling (ehs), Prima Mandiri Homeschooling ( homeschooling di Jakarta Selatan), Morning Star Academy, dan banyak lagi. Semuanya menawarkan harga yang sangat beragam disertai keunggulan yang ditawarkan oleh masing-masing program. Semua itu menjadikan homeschooling sebagai alternatif pendidikan yang dimasa datang menjadi pilihan siswa-siswi di Indonesia.

Kini banyak pertanyaan mengapa homeschooling menjadi suatu alternatif pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat? Padahal banyak sekolah formal baik Negeri maupun Swasta banyak yang berdiri ? Jawabnya adalah adanya  peserta didik ( siswa-siswi ) yang memiliki kendala atau halangan untuk bersekolah di sekolah umum. Ada yang karena kesibukannya sudah merintis masa depannya sebagai model iklan, pemain sinetron atau tergabung dalam sebuah group band. Hal ini sangat menyita waktu mereka sehingga waktu untuk bersekolah dari pagi hingga petang tidak dapat diikuti. Namun ada pula bagi putra-putri harapan Ibu Pertiwi yang mengalami kendala sejak kelahirannya, yang oleh dunia medis digolongkan sebagai Special Needs, seperti mengalami Dyslexia (Alexia) , gangguan konsentrasi, ADHD, bahkan autisme yang semuanya jika bersekolah di sekolah formal akan mengalami banyak kendala. Maka homeschooling menjadi alternatif terakhir agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang layak dengan perhatian khusus sehingga dapat menempuh ujian pemerintah dan memperoleh ijasah dari pemerintah.

Bagi anak-anak yang memiliki cacat tertentu, pemerintah Indonesia juga telah memfasilitasi sekolah khusus bagi anak-anak penyandang cacat seperti buta, tuli dan bisu yaitu untuk bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa). Namun bagi anak-anak yang tidak cacat secara fisik apakah layak mereka bersekolah di SLB? Di satu pihak hal ini boleh saja karena SLB menampung mereka dengan biaya yang relatif lebih murah. Namun misalkan anak kita hanya mengalami gangguan konsentrasi, apakah mereka tidak menjadi malu, marah dan minder (rendah diri) ketika mereka bersekolah di SLB dan mendapat ijasah SLB? Semakin beranjak dewasa mereka akan berpikir bahwa mereka adalah anak yang terbuang, dan akan terbenam di pikiran bawah sadarnya bahwa mereka adalah anak yang tidak sepadan berkumpul dengan orang-orang normal. Mereka adalah bagian dari kelompok minoritas yang terpinggirkan. Hal inilah yang harus dihindari, sehingga kini pemerintah telah memberikan perizinan untuk berdirinya homeschooling di Indonesia. Kebutuhan akan pendidikan yang layak dapat tersalurkan melalui pendidikan homeschooling ini.

Bagi putra putri yang tercakup dalam special need atau ADHD (Attention Devisit / Hiperactivity Disorder) sebaiknya tidak tergabung dalam homeschooling yang menerapkan kelas komunitas atau kelas majemuk. Sebaiknya dilakukan pengajaran secara “one student by one teacher.  Metode ini merupakan pilihan terbaik bagi siswa. Materi pelajaran dapat ditentukan sendiri oleh orang tua siswa dan disesuaikan dengan kemampuan yang telah diraih oleh siswa tersebut. Juga pemantauan terhadap perkembangan dari siswa juga harus menjadi salah satu yang diprioritaskan dengan melibatkan peran orang tua secara penuh.

2 Comments »

  1. 1
    sandyoke Says:

    Home schooling sangat dibutuhkan, khususnya bagi orang atw siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah umum akibat kurangnya daya tahan kesehatan. Home schooling menjadi tidak bermanfaat ketika prioritas lembaga tersebut adalah “uang” tanpa memperdulikan perkembangan siswa. Pendapat “one teacher, one student” tinggal menjadi semboyan pencari keuntungan. Tidak semua org yg mengikuti home schooling tidak mempunyai harapan2 seperti anak2 umum lainnya.

    • Terima kasih Bung Sandy atas komentarnya. Sebenarnya Anda adalah orang yang beruntung telah diberikan kemampuan berpikir dan bernalar yang sempurna sehingga Anda dapat menyelesaikan hingga PTN di Jawa Tengah. Namun bagi sebagian orang yang memiliki kendala atau keterbatasan mungkin saat ini tidak seberuntung Anda. Mereka yang diberi oleh Tuhan kelainan genetik seperti ADHD tidak dengan mudah bergaul dengan anak-anak seusianya. Teman-teman di sekolah formal kebanyakan mencemooh dan mengucilkan karena mereka berbeda dengan anak-anak seusianya. (Maklum anak-anak belum berpikir seperti orang dewasa dan toleransinya sangat kecil terhadap lingkungan sekitarnya) Ada yang terlalu pandai sehingga teman-temannya tidak mau bermain dengannya atau karena bertingkah laku yang dianggap aneh mereka mengejeknya. Maka homeschooling menjadi alternatif untuk melindungi dari perlakuan yang tidak menyenangkan itu. Bahkan Albert Einstein yang dianggap bodoh pada saat bersekolah, dapat menjadi penemu yang hasilnya telah dapat kita rasakan bersama. Itu dikarenakan mereka memiliki kelebihan seperti pikiran yang polos ( tidak berprasangka buruk ) dan memiliki perasaan yang lebih halus dan tajam.

      Juga semisal “maaf” anak tukang sapu jalanan yang tidak bisa bersekolah formal, karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah juga berhak untuk belajar. Mereka dapat bergabung dengan sekolah gratis atau belajar sendiri. Bahkan pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran agar mereka dapat menempuh ujian negara dengan ketentuan tertentu. Dengan banyaknya berdiri sekolah gratis yang dibiayai oleh para dermawan yang menyumbang dengan ikhlas, (“Semoga para dermawan yang dengan ikhlas menyumbangkan ilmu dan hartanya mendapat tambahan rahmat dari ALLAH SWT”) maka anak jalanan itu masih dapat bermimpi untuk meraih kehidupan kelak yang lebih baik.

      Bagaimana dengan guru pengajar di sekolah gratis tersebut? Mereka juga harus dibayar untuk waktu dan tenaganya, meskipun dengan nilai yang tidak seberapa. Pengajar itu juga memiliki keluarga yang harus dinafkahi. Mereka membagi dan mengajarkan ilmunya dengan ikhlas, dimana mereka telah membayar mahal untuk duduk di bangku kuliah. Para guru pengajar juga berkeinginan suatu saat mereka memperoleh kehidupan yang layak seperti Anda. Mereka selalu berharap semoga dengan keikhlasannya mengajar, suatu saat mereka akan dapat diangkat menjadi pegawai negeri. (saat ini menjadi pegawai negeri dianggap cukup gajinya untuk menafkahi keluarga) . Maka saya yakin bahwa dengan modal kejujuran, keikhlasan dan kesabaran, maka jalan untuk meraih kehidupan yang lebih baik akan dapat diraih dengan kerja keras dan keyakinan kuat pantang menyerah. Hambatan yang diperoleh akan menjadikan kita lebih tegar dalam menjalani kehidupan. Tuhan juga akan mengabulkan doa kita yang diperjuangkan dengan tindakan yang nyata.


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: