Informasi ADHD Homeschooling

Bagi orang tua yang berminat untuk melakukan homeschooling bagi putra putrinya, dapat mendaftarkan diri ke Prima Mandiri Homeschooling, dimana kami memberikan konsultasi dan pengadaan guru-guru yang terlatih dalam menangani Spesial Need maupun ADHD sindrome. Pengajaran yang diberikan dapat dalam bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris, dengan kurikulum yang telah disesuiakan dengan kemampuan siswa. Kami akan memberikan konsultasi dan pemantauan secara berkala atas perkembangan dari putra putri Anda. Hub: Yanuar di  telp: 0821 2584 6159 .  Selamat bergabung bersama kami agar putra putri Anda memperoleh pendidikan yang layak dan terbaik.

4 Komentar »

  1. 1
    Dissy Berkata

    Maaf pak bu saya mau mengetahui berapa biaya per jam untuk tutor pendamping anak hs adhd / jam apakah lebih mahal biaya nya dibanding anak normal. Untuk terdaftar sebagai murid distance learning di Prima Mandiri HS berapa biaya masuknya mohon penjelasan Thanks

    • Terima kasih Bu Dissy untuk pertanyaannya…
      Untuk biaya per jam tutor pendamping dari setiap lembaga homeschooling berbeda-beda (bervariasi). Semua itu tergantung kedekatan lokasi tempat pembelajaran dan jenjang pendidikan dari siswanya sendiri. Sedangkan untuk biaya, tidak ada perbedaan antara siswa HS dengan ADHD maupun lainnya. Namun jika siswa memiliki kecenderungan ADHD sebaiknya diberitahukan kepada pihak lembaga homeschooling sehingga penanganan dalam pembelajarannya dapat disesuaikan, dan guru atau tentor yang datang mengajar sudah mendapatkan pelatihan mengenai ADHD dan cara penanganannya. Untuk hal lain lebih lanjut dapat menghubungi kami di nomor telepon : 0821.2584.6159.

  2. 3

    bagaiman dengan anak disleksia?
    Pembelajaran’y seperti apa yang akan di berikan’y.
    ^_^

    serta
    Sekolah mana yang dapat menaungi speesial need in?

    trims

    • Terima kasih untuk pertanyaannya, Ibu Emalia…

      Bagi anak -anak yang dimasukkan dalam kelompok disleksia, (memiliki kesulitan dalam berbicara, menulis maupun berhitung ) peran keluarga sangatlah menjadi kunci utama. Dari usia 2 hingga 6 tahun harus rutin diberikan latihan-latihan yang menjadi kekurangannya. Misalnya dalam hal pengucapan kalimat. Kita sebagai orang tua sangat diperlukan waktu senggangnya dalam mengajaknya mengucapkan kalimat-kalimat rutinitas sehari-hari. Kalimat diucapkan dengan lebih lambat, namun dengan volume agak keras. Kesalahan demi kesalahan anak harus kita maklumi. Jangan lupa berikan pujian jika dia sudah mulai mencoba walaupun itu masih salah. (Misal : Wah… anak mama pintar yah…..) Ulangi terus beberapa kali. Bahkan untuk pengucapan kalimat yang panjang, perlu latihan pernafasan dengan memanjangkan tarikan nafas, dan meniupkan secara perlahan-lahan dengan mulut membentuk huruf O. (Hufff….. Tarik nafas panjang, tiup hufff…. . Seperti belajar bernyanyi. Mungkin dengan bermain/ belajar meniup balon juga bisa menjadi salah satu trik latihan ) Jangan mencelanya jika ada kesalahan dalam pelafalan ucapannya. Dan yang paling penting, setelkan video musik lagu-lagu anak, sehingga dia tertarik untuk mulai menyanyi. Kegiatan ini dapat membuatnya selalu ingin berkata-kata, meskipun awalnya belum jelas, namun berangsur-angsur akan membaik dan menjadi sempurna. Biarkan dahulu lafal yang kurang tepat, dan betulkan sebagian saja disaat dia dalam kondisi senang. Ulangi lagi pada lagu yang dia ingin mendengarkan dan mengikuti nyanyiannya. Itu hanya sebagai contoh, dan jangan sekali-kali kita mencela atas kekurangannya. Namun dengan sangat memanjakan juga salah. Jangan membedakan perlakuan antara kakak maupun adiknya, buat mereka sama seperti tidak terjadi kekurangan apa-apa. Kunci kesuksesan adalah kesabaran
      Bagi kegiatan membaca ataupun menulis, juga sama. Ajarkan pengenalan huruf dahulu, dengan pengucapan vokal maupun konsonan dengan benar. Tidak terlalu terburu-buru untuk membaca. Biasanya ini dilakukan ketika menginjak usia 4 hingga 5 tahun. Contohkan posisi mulut, lidah maupun nafas yang dikeluarkan. Dapat dilakukan sambil bermain atau belajar mewarnai yang menggunakan teks huruf yang dicetak besar. Jadi anak tidak berpikir untuk belajar, tapi bermain. Dan jangan lupa, pujian atas hal yang sudah dilakukannya. Berdasarkan pengalaman, sebaiknya jangan dahulu diajarkan pengucapan vokal dan konsonan dalam bahasa Inggris, karena akan ada kerancuan/kebingungan diingatannya. Anak boleh diajarkan membaca dalam bahasa Inggris jika sudah mampu membaca dalam bahasa Indonesia. Jadi tidak akan ada kekacauan dalam pengucapan kalimatnya kelak. Tapi menyanyi dan berbicara dalam bahasa Inggris tidak dilarang. (Hal-hal di atas hanya contoh aktivitas yang dapat dilakukan sehari-hari antara anak dengan orang tua)

      Ketika anak sudah memasuki masa sekolah, Ibu bisa mendaftarkannya di sekolah taman kanak-kanak umum, dimana dia juga harus belajar berinteraksi dengan teman sebayanya. Orang tua masih mudah mengawasi hingga ke sekolah dan mendapat berita mengenai perkembangannya. Dan untuk masuk di sekolah dasar, sebaiknya ketika sudah berusia 7 tahun, sehingga anak tidak terlalu muda dan mudah beradaptasi dengan sebayanya. Biarkan anak bermain, kita mengawasinya dari jauh saja.

      Sudah banyak sekolah formal yang dilengkapi personil guru untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya di Jakarta seperti HighScope, Cita Buana maupun Cikal. Sepengetahuan saya mereka mempersiapkan shadow teacher yang dibekali kemampuan untuk itu. Memang menjadikan biaya lebih mahal, namun itulah yang menjadikan mereka sekolah alternatif tujuan. Materi yang diajarkan juga relatif sama untuk setiap siswa dalam grade tertentu.

      Lain halnya dengan sekolah negeri, tidak ada guru atau divisi yang dilatih untuk menangani hal-hal seperti ini. Pemerintah telah menyediakan sekolah khusus seperti SLB yang notabene seluruh siswanya mengalami kekurangan. Kelas yang terdiri lebih dari 25 siswa bukan menjadi pilihan yang tepat. Saya lebih menyarankan kelas yang terbatas antara 5 sampai sepuluh orang. Juga disarankan apabila anak kita anggap sudah mampu berbaur dengan anak lainnya, sebaiknya mereka dimasukkan di sekolah yang bercampur dengan anak-anak biasa lainnya (kelas inklusi) . Dan mungkin ini membutuhkan saran dari seorang psikolog anak.

      Alternatif lain adalah menyekolahkan mereka di homeschooling yang dapat menangani anak-anak berkebutuhan khusus ini. Carilah homeschooling yang fleksibel dan memiliki personel guru yang dilatih untuk menanganinya. Mereka dapat memberikan materi pelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa. Sehingga kebutuhan anak akan pendidikan formal dan ijasah formalnya terpenuhi, serta dapat berkembang seiring bertambahnya usia anak.

      Terima kasih, semoga keterangan di atas dapat bermanfaat…


RSS Feed for this entry

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.